Kawasan Desa Kapitan Di Palembang

  • Whatsapp
kampung kapitan di palembangjpg

Kampung Kapitan Sebuah kelompok sosial yang didirikan pada tahun 1644 oleh seorang nakhoda kapal laut, terdapat 15 rumah panggung bergaya Tionghoa di Kelurahan 7 Ulu Seberang Ulu 1 Palembang, lokasi tepatnya berada di tengah pemukiman padat di tepi sungai Musi dan berhadapan langsung dengan sungai. Benteng Kuto Besak. Kampung Kapitan mungkin merupakan pemukiman khas etnis Tionghoa Palembang.

Dulu tempat itu adalah kediaman Kapitan Cina dan keluarganya.

Bacaan Lainnya

0
Hingga saat ini, sudah 11007 Orang terpapar Virus SARS-CoV-2, Lindungi keluarga Anda, dengan Menjalankan Protokol Kesehatan secara disiplin

Jika ingin kesini, anda akan menggunakan kendaraan atau perahu getek yang ada di luar sana di dalam halaman Benteng Kuto Besak Palembang.

Palembang sudah lama menjadi tujuan imigrasi beberapa orang dari berbagai daerah termasuk pendatang dari China. Awal mula munculnya desa Kapitan adalah pada saat runtuhnya Kerajaan Sriwijaya pada abad XI dan oleh karena itu munculnya Ming (Cina) pada abad ke-16 XIV.

Kemudian Kerajaan Tionghoa membentuk sebuah lembaga perdagangan yang salah satunya berpusat di Palembang, sehingga banyak pedagang Tionghoa kemudian menetap dan menikahi gadis-gadis Palembang.

Salah satu kepala kantor perdagangan Tiongkok yang terkenal adalah Liang Taow Ming yang memiliki pengaruh kuat pada komunitas Tiongkok. Akibat pengaruh tersebut, Lioang Taow Ming diangkat sebagai politisi oleh pemerintah Belanda dan diberi kepercayaan untuk menguasai kawasan 7 ulu dan sekitarnya.

Pada masa kolonial, Belanda menunjuk perwira Cina Tjoa Kie Tjuan ke pangkat Mayor untuk mengatur wilayah 7 ulu yang disebut Mayor Tumenggung dan Walikota Putih. Masa kepemimpinannya dari tahun 1830-1855 dalam wilayah 7 ulu.

Jabatan itu diturunkan dari generasi ke generasi kepada putranya, Tjoa Ham Hin, yang diangkat menjadi kapten Tiongkok pada tahun 1855. Setelah diangkat menjadi kapten dan diberi wewenang serta kebebasan untuk menguasai wilayahnya sendiri.

Kawasan Desa Kapitan tidak akan menjadi pusat perdagangan kota, hingga pada saat itu sebuah Desa yang sekarang bernama Kampung Kapitan mulai dibangun.

Sebuah distrik pemukiman 165,9 x 85,6 meter. Bangunan inti kediaman Kapitan terdiri dari tiga rumah yang terdiri dari dua rumah yang paling mengapit rumah, tempat pesta dan pertemuan diadakan.

Kampung Kapitan boleh jadi merupakan kawasan cagar budaya yang eksistensinya terus dijaga selama ini, pemerintah memanfaatkan momen Cap Go Meh untuk mendorong Kampung Kapitan sebagai objek wisata sejarah. Kampung Tionghoa ini memang menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat kota empek-empek.

Selain bangunan bersejarah, warga yang datang juga mendapatkan wawasan dengan sebaran data yang ada untuk menuju ke Desa Kapitan, sayangnya bangunan berusia 400 tahun tersebut dalam kondisi yang agak memprihatinkan baik di permukaan maupun di dalam gedung karena sumbernya. pendanaan untuk pemeliharaan tetap bersifat pribadi.

Satu-satunya perabot kuno yang akan ditemukan adalah meja abu, altar sembahyang dan beberapa foto kapten kapal. Anda akan memandang seketika kamar tidur Kapitan atau mencoba mengenakan baju Kapitan, bagi pengunjung yang berkunjung ke Desa Kapitan pasti akan memberikan pengalaman yang berkesan Istimewa.

Pos terkait