Arsitektur Masjid Lawang Kidul Di Palembang

  • Whatsapp
masjid lawang kidul Palembang

Kiai Muara Ogan yang bernama asli Massagus Haji Abdul Hamid, selain menyatukan Masjid Kiai Muara Ogan, juga membangun Masjid Lawang Kidul. Masjid ini berada di muara Sungai Lawang Kidul, berdiri di atas tanjung pertemuan Sungai Lawangkidul dengan Sungai Musi. Dibangun pada 1310 H (1890 M), masjid ini diberi nama Lawang Kidul, sesuai dengan posisi pintu masjid yang paling menghadap ke selatan, langsung menghadap ke Sungai Musi.

Dilihat dari posisi 2 masjid yang ditinggalkan Kiai Muara Ogan di tepian Sungai Musi, kemungkinan besar aktivitasnya sebagian besar berada di perairan Sungai Musi. Biasanya dia menggunakan perahu kayu untuk menyeberangi Sungai Musi bersama murid-muridnya.

Bacaan Lainnya

0
Hingga saat ini, sudah 11007 Orang terpapar Virus SARS-CoV-2, Lindungi keluarga Anda, dengan Menjalankan Protokol Kesehatan secara disiplin

Arsitektur Masjid Lawang Kidul menyerupai Masjid Palembang yang baik dan karenanya Masjid Kiai Muara Ogan. Ada ciri khas Masjid Lawang Kidul yaitu menara masjid memiliki tiga undak pada badan menaranya. Kemudian, atap masjid di dalam bangunan utama diperlebar untuk menyembunyikan sebagian besar ruangan di bawahnya.

Atap Masjid Lawang Kidul memiliki tiga anak tangga. Uniknya, langkah kedua ternyata menutupi yang pertama. Di antara langkah kedua dan ketiga tidak ada pembatas jendela. bagian atas atap dipasang dengan bulan sabit. Atap ruang mihrab tidak setara dengan atap utama masjid. Atap mihrab sangat mirip dengan atap kuil.

Material masjid terdiri dari campuran batu kapur, albumen dan pasir. Bahan-bahan ini menjaga umur panjang bangunan. Material utama lainnya adalah kayu unglen untuk cuaca tiang, pintu, atap dan jendela.

Tiang utama masjid terdiri dari 4 tiang guru setinggi 8 meter dengan 12 tiang pendamping setinggi 6 meter. tiang masjid lengkap berbentuk segi delapan. Empat atap alang (penyangga) sepanjang 20 meter juga terbuat dari kayu unglen yang disusun tanpa sambungan.

Tiang masjid lainnya dipasang di teras rumah. ukurannya sedikit lebih besar dari sebagian besar pilar di ruang utama. Pola ukiran pilar teras berbentuk lonjong dengan sudut melengkung. bagian dasar dan atas pilar dibentuk oleh lingkaran lingkaran.

Bahan bangunan awalnya ubin bambu dibelah, kemudian diganti dengan ubin kodok. Renovasi masjid dilaksanakan dalam kurun waktu 1983-1987 untuk menukar beberapa bagian masjid yang sulit dirawat hingga diperpanjang. Namun, bentuk bangunannya tidak berubah sedikit pun. sebagian besar bangunan masjid tetap berukuran 20 meter x 20 meter.

Penambahan ranah wudhu, jamban, kelas TK-TPA, kantor yayasan masjid, agar ukuran masjid 40 meter x 41 meter. Perbaikan dan penambahan dilakukan pada teras atap, pagar masjid dan plesteran lembaran.

Interior Masjid Lawang Kidul lebih mudah dari pada Masjid Kiai Muara Ogan. Ukiran dan kaligrafi hanya terdapat pada mimbar dan plafon ruangan yang paling banyak. Ukiran kayu yang membentuk sulur bunga di atas mimbar menunjukkan unsur budaya melayu yang menyatu dengan alam. Di langit-langit ruangan paling besar, kaligrafi empat sahabat utama Nabi Muhammad dibingkai serasi dengan ukiran sulur bunga yang serasi dengan mimbar.

Bapak pendiri masjid ini, Kiai Muara Ogan, sangat gigih menyebarkan ajaran Islam di wilayah Sumatera Selatan yang pernah menjadi wilayah Kesultanan Palembang Darussalam. Ia sangat dikagumi masyarakat karena keseriusannya mengembangkan pendidikan Islam di Palembang. Ia menjadikan masjid sebagai tempat pelatihan para ulama yang nantinya akan menjadi penerusnya menyebarkan ajaran Islam ke pelosok Sumatera Selatan.

Warisan Kiai Muara Ogan bukan hanya Masjid Lawang Kidul, tapi juga Masjid Kiai Muara Ogan Palembang. Ia juga meninggalkan tiga unit akomodasi jamaah di Arab Saudi, satu masjid di Dusun Pedu Pemulutan OKI-Sumatera Selatan, dan satu masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir-Sumatera Selatan.

Masjid Lawang Kidul dan karenanya Masjid Kiai Muara Ogan masih menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Di tempat ini, ajaran Islam disebarluaskan dan dikembangkan oleh seorang pedagang dengan ilmu agama yang luas.

Pos terkait